PUISI:Berdiri di Atas Titik Waktu yang Hilang di Selat Bali
PUISI: Berdiri di Atas Titik Waktu yang Hilang di Selat Bali Oleh I Gede Sugata Yadnya Manuaba Di antara desir angin yang menyisir Selat Bali, aku berdiri pada sebuah titik waktu yang hilang, bukan hilang karena lenyap dari sejarah, melainkan menyatu dalam samudra kesadaran semesta. Air berkilauan memantulkan cahaya Surya, ombak berirama melantunkan mantra alam, seakan mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan tanpa henti menuju pemahaman diri. Dalam langkah Tirtayatra yang suci, bersama Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal, para guru, dan seluruh pegawai, terhampar jalan pendidikan yang tidak hanya mendidik pikiran, tetapi juga menyucikan jiwa. Tirta yang menyentuh dahi bukan sekadar air dalam pandangan fisika, melainkan simbol transformasi kesadaran, yang dalam teologi Hindu dikenal sebagai jalan menuju penyelarasan antara Δtman dan Brahman. Pada setiap percikan air suci, tersimpan pesan ilmiah tentang kehidupan; bahwa sebagaimana air mengalir mencari keseimbang...