Puisi Perpustakaan widya PARAMARTHA
PERPUSTAKAAN WIDYA PARAMARTHA
Samudra Sunyi Pengetahuan dan Doa
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba
Di ambang pintu sunyi itu
aku menanggalkan bising dunia,
menitipkan gaduh pada rak sepatu waktu,
lalu masuk sebagai peziarah ilmu—
bukan pemburu angka,
melainkan pencari makna.
Perpustakaan Widya Paramartha,
engkau bukan sekadar ruang dan rak,
bukan tumpukan kertas berdebu sejarah,
melainkan mandala pengetahuan
tempat aksara bersila,
tempat pikiran bersemedi,
tempat nalar dan nurani
bertemu dalam satu napas dharma.
Di sini, huruf-huruf berdoa.
Mereka bersujud dalam paragraf,
berjapa dalam tanda baca,
menyanyikan kidung sunyi
tentang asal-usul manusia
dan tujuan pulangnya.
Widya—ilmu yang menyalakan terang,
Paramartha—kebenaran tertinggi,
engkau ajarkan pada anak-anak Abiansemal
bahwa membaca adalah tapa,
menulis adalah yadnya,
dan memahami adalah bentuk tertinggi
dari rasa syukur.
Buku-buku tak sekadar menjelaskan dunia,
ia mengajarkan mengapa kita harus menjaga,
mengapa sampah adalah dosa ekologis,
mengapa kata harus jujur,
mengapa pengetahuan tanpa etika
hanyalah pisau tanpa sarung.
Di lorong-lorongmu
logika berjalan beriringan dengan iman.
Sains tidak sombong,
agama tidak takut pada tanya.
Hipotesis bersalaman dengan keyakinan,
data mencium nilai,
dan kebenaran lahir
bukan dari suara paling keras,
melainkan dari pikir paling jernih.
Anak-anak duduk bersahaja,
mata mereka menyala seperti pelita subuh.
Mereka belajar bahwa pintar
bukan tentang mengalahkan sesama,
melainkan memahami semesta
tanpa melukai sesamanya.
Perpustakaan ini mengajarkan
bahwa ilmu harus membumi,
menyentuh tanah Bali yang sakral,
menghormati leluhur,
merawat bahasa ibu,
menjaga aksara agar tak yatim
di rumahnya sendiri.
Di bawah atap Widya Paramartha,
ilmu bukan komoditas,
tetapi amanat.
Ia diturunkan dari generasi ke generasi
seperti api suci
yang tak boleh padam
oleh malas dan lupa.
Wahai perpustakaan,
engkau guru tanpa suara,
pendeta tanpa jubah,
laboratorium batin
bagi calon pemimpin masa depan.
Di SMP Negeri 4 Abiansemal,
engkau berdiri sederhana
namun tegak dalam makna.
Mengajarkan bahwa membaca
adalah jalan sunyi
menuju manusia seutuhnya—
cerdas pikirannya,
halus rasanya,
kuat karakternya,
dan bersih jiwanya.
Maka biarlah aku bersaksi:
selama Widya Paramartha bernapas,
selama buku dibuka dengan adab,
selama ilmu dipeluk dengan iman,
sekolah ini tak hanya mencetak lulusan,
tetapi menumbuhkan peradaban.
Om Śānti Śānti Śāntiḥ.
Komentar
Posting Komentar