Kamis, 21 Mei 2025“KABALI — KAMIS MABASA BALI”

KORAN PELANGI SPENFOURAB
Kamis, 21 Mei 2025

“KABALI — KAMIS MABASA BALI”

Menyelaraskan Pikiran, Perkataan, dan Perilaku melalui Bahasa, Budaya, dan Spiritualitas

Oleh Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal

SUASANA RELIGIUS DAN PENUH MAKNA DI SPENFOURAB

Hari Kamis pagi di lingkungan SMP Negeri 4 Abiansemal terasa berbeda. Nuansa adat Bali madya berpadu dengan suasana religius dan penuh kekeluargaan dalam pelaksanaan program KABALI (Kamis Mabasa Bali).

Program pembiasaan budaya ini dirancang sebagai wadah pelestarian Bahasa Bali sekaligus penguatan karakter siswa melalui pendekatan spiritual, budaya, dan pendidikan modern berbasis kearifan lokal.

Seluruh siswa, guru, dan pegawai tampak menggunakan Bahasa Bali dalam komunikasi sehari-hari. Salam, sapaan, diskusi pembelajaran, hingga interaksi ringan dilakukan menggunakan anggah-ungguhing basa Bali yang santun dan harmonis.

MENGULAS MAKNA TRI SANDYA

Bahasa Tersurat dan Tersirat sebagai Jalan Pendidikan Karakter

Kegiatan KABALI hari ini diisi langsung oleh I Putu Eka Suantara, S.Ag (guru agama Hindu) bersama guru Bahasa Bali SMP Negeri 4 Abiansemal.
Dalam penyampaiannya, beliau mengulas bahasa yang tersurat dan tersirat dalam bait-bait Puja Tri Sandya. Tidak hanya membahas makna secara tekstual, beliau juga mengajak siswa memahami nilai spiritual dan moral yang terkandung di dalamnya.

Beliau menegaskan bahwa Puja Tri Sandya bukan hanya doa yang diucapkan secara hafalan, tetapi merupakan sarana penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Melalui pendekatan yang komunikatif dan penuh karisma, siswa diajak memantapkan tata cara melakukan Puja Tri Sandya dengan sikap yang benar, penuh bhakti, kesadaran, dan ketulusan hati.

Suasana semakin menyentuh ketika beliau memperdengarkan lagu Bali bertemakan “Saking Tuhu Manah Guru”. Lagu tersebut menjadi media refleksi batin tentang ketulusan guru dalam mendidik dan membimbing generasi muda.
TRIKAYA PARISUDHA SEBAGAI LANDASAN KEHIDUPAN

Dalam ulasan beliau, siswa diharapkan mampu mengolah dan menerapkan konsep Tri Kaya Parisudha sebagaimana tersirat dalam bait terakhir Puja Tri Sandya, yaitu:
- Manacika: berpikir yang baik
- Wacika: berkata yang baik
- Kayika: berbuat yang baik

Nilai-nilai ini dipandang sebagai fondasi utama pembentukan karakter siswa modern yang tetap berakar pada budaya dan spiritualitas Bali.

PAMICUTET DARI BAPAK SUGATA

Menyelaraskan Sikap dan Pikiran melalui Musik dan Bahasa

Penyampaian berikutnya dilanjutkan oleh I Gede Sugata Yadnya Manuaba yang memberikan simpulan atau pamicutet dari materi yang telah disampaikan.

Sugata menekankan pentingnya menyelaraskan sikap dengan pikiran melalui musik yang didengar, bahasa yang digunakan, dan perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, musik, bahasa, dan budaya memiliki kekuatan membentuk karakter manusia secara halus namun mendalam.

“Bahasa menunjukkan bangsa. Cara berbicara menunjukkan kualitas diri seseorang. Ulian biasè pasti bisè.”

Sugata juga menegaskan bahwa penggunaan anggah-ungguhing basa Bali bukan sekadar aturan berbicara, tetapi latihan etika, kesadaran sosial, dan penghormatan kepada sesama.

PEMIKIRAN MODERN TIM REDAKSI

Budaya Lokal Harus Mampu Berdialog dengan Zaman

Tim Redaksi Koran Pelangi SPENFOURAB memandang bahwa program KABALI merupakan bentuk pendidikan modern yang tidak tercerabut dari akar budaya lokal.

Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi, generasi muda membutuhkan ruang untuk tetap mengenali identitas budayanya sendiri. Bahasa Bali tidak boleh hanya hidup di buku pelajaran, tetapi harus hadir dalam kehidupan nyata, komunikasi sehari-hari, musik, literasi, dan pendidikan karakter.

Program ini juga menunjukkan bahwa budaya tradisional dapat dikemas secara kreatif, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini.

Musik daerah, pembiasaan bahasa, refleksi spiritual, hingga dialog budaya merupakan metode pendidikan modern yang mampu menyentuh aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual siswa secara seimbang.

PROGRAM “TIADA HARI TANPA MAKNA”

Kegiatan KABALI merupakan bagian dari program “Tiada Hari Tanpa Makna” yang dirancang oleh bapak I Made Antara, S.Pd selaku kepala sekolah, ini merupakan bentuk penguatan karakter dan budaya sekolah.

Program ini juga menjadi aplikasi langsung dari kebijakan Pemerintah Provinsi Bali melalui:
Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali

Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali

Melalui implementasi nyata di sekolah, siswa diajak untuk mencintai budaya Bali bukan hanya secara simbolik, tetapi melalui praktik kehidupan sehari-hari.

PENUTUP KEGIATAN

Kegiatan KABALI hari ini ditutup langsung oleh Ibu Ida Ayu Pridayanti, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Beliau menyampaikan apresiasi atas antusiasme siswa dan guru dalam menjaga budaya Bali melalui pendidikan yang positif, religius, dan bermakna serta beliau membubarkan seluruh siswa untuk kembali ke kelas masing-masing. 
SPENFOURAB
Religius • Berbudaya • Literat • Karismatik • Positif • Inovatif • Ajeg Bali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

Pelepasan Siswa-Siswi Kelas IX Angkatan ke-38

PENGIMBASAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN