Semangat Baru Setelah Libur, SPENFOURAB Jaya dalam Literasi, Disiplin, dan Kebersamaan
KORAN PELANGI SPENFOURAB
Rabu, 20 Mei 2026
“Semangat Baru Setelah Libur, SPENFOURAB Jaya dalam Literasi, Disiplin, dan Kebersamaan”
Oleh Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal
Pagi yang cerah menyelimuti halaman SMP Negeri 4 Abiansemal pada Rabu, 20 Mei 2026. Udara segar pegunungan berpadu dengan semangat baru para siswa kelas VII dan VIII yang kembali aktif mengikuti kegiatan sekolah setelah sepekan menjalani libur karena pelaksanaan ujian sekolah kelas IX. Suasana religius, disiplin, dan penuh energi tampak hidup dalam Program BUSI (Budaya Siswa Inspiratif) Rabu Literasi dan Makan Sayur yang telah menjadi budaya positif sekolah.
Sejak pagi, siswa-siswi datang dengan wajah ceria sambil menggendong tas dan bekal sayur sehat dari rumah serta di sapa oleh bapak kepala sekolah dan para guru di depan sekolah. Di tengah suasana itu, terdengar suara lantang penuh semangat dari Kepala Sekolah bapak I Made Antara, S.Pd yang langsung memimpin kegiatan pagi hari.
Dengan penuh kharisma dan energi positif, beliau membuka kegiatan melalui yel-yel khas SPENFOURAB yang menggema di seluruh halaman sekolah.
“Siapa kita?”
“SPENFOURAB!” jawab siswa serentak.
“SPENFOURAB?”
“Pasti bisa!”
“SPENFOURAB?”
“Jaya… jaya… aya!”
Yel-yel tersebut diulang hingga tiga kali. Suara para siswa semakin kuat, penuh keyakinan, dan membangkitkan semangat belajar yang sempat redup karena masa libur. Sorak semangat itu menjadi simbol kebangkitan energi positif seluruh warga sekolah.
Dalam arahan religius-teologis yang sederhana namun penuh makna, bapak I Made Antara, S.Pd menekankan bahwa belajar bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan bagian dari yadnya dan tanggung jawab moral siswa sebagai generasi masa depan.
Beliau mengingatkan bahwa waktu adalah anugerah Tuhan yang harus digunakan dengan bijaksana.
“Belajarlah dengan serius dan semangat. Gunakan waktu dengan baik karena Senin depan kita sudah memasuki Sumatif Akhir Semester Genap. Anak-anak SPENFOURAB harus siap lahir dan batin,” pesan beliau dengan penuh ketegasan namun tetap hangat.
Selain itu, beliau juga menyampaikan pesan penting tentang budaya kebersihan sekolah. Dengan nada penuh kepedulian, beliau mengingatkan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua bagi seluruh warga sekolah.
“Sekolah adalah rumah kedua bagi kita semua. Maka dari itu jagalah kebersihan dan keindahannya. Buanglah sampah pada tempatnya agar sekolah kita tetap nyaman, sehat, dan indah,” ujar beliau di hadapan seluruh siswa.
Pesan sederhana tersebut menjadi penguatan karakter ekologis dan spiritual. Kebersihan dipandang bukan hanya sebagai aturan sekolah, tetapi juga bagian dari etika, disiplin, dan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas lingkungan yang telah diberikan.
Arahan tersebut disambut dengan perhatian penuh dari para siswa. Nuansa pendidikan karakter terasa sangat kuat. Tidak hanya berbicara tentang nilai ujian, tetapi juga tentang pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
Dalam kesempatan itu pula, beliau menyampaikan rencana kegiatan Persari (Perkemahan Satu Hari) di sekolah bagi seluruh siswa-siswi kelas VII dan siswa-siswi yang mengikuti ekstrakurikuler Pramuka dan PMR setelah ujian semester selesai. Kegiatan tersebut dirancang sebagai latihan kemandirian dan pendidikan karakter.
Aturan yang disampaikan pun cukup tegas dan unik. Para siswa diwajibkan belajar hidup mandiri selama kegiatan berlangsung.
Tidak diperkenankan membawa HP, membawa makanan jadi, maupun uang saku berlebihan. Bahkan orang tua tidak diizinkan membesuk selama kegiatan berlangsung. Semua itu dilakukan agar siswa belajar bertanggung jawab, sederhana, disiplin, dan mampu bekerja sama.
Konsep ini menjadi inovasi pendidikan karakter yang sangat menarik di lingkungan sekolah modern. Di tengah era digital yang penuh ketergantungan pada teknologi, SMP Negeri 4 Abiansemal justru menghadirkan pendidikan berbasis pengalaman nyata, kedisiplinan, dan penguatan mental spiritual.
Selain itu, bapak I Made Antara, S.Pd juga menyampaikan harapan agar siswa kelas VII dan VIII dapat ikut berpartisipasi dalam acara perpisahan dan pelepasan siswa kelas IX yang rencananya akan dilaksanakan di luar sekolah.
Keputusan lokasi kegiatan tersebut merupakan hasil voting siswa kelas IX yang sebagian besar menginginkan suasana perpisahan di luar lingkungan sekolah agar lebih berkesan dan penuh kenangan.
Walaupun kegiatan itu tidak diwajibkan untuk kelas VII dan VIII, beliau tetap berharap adik-adik kelas dapat hadir sebagai bentuk kebersamaan, penghormatan, dan rasa kekeluargaan antargenerasi di SPENFOURAB.
Kegiatan BUSI pagi ini bukan hanya sekadar rutinitas literasi dan makan sayur. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pendidikan jiwa. Literasi membangun pikiran, makanan sehat membangun tubuh, dan yel-yel semangat membangun karakter.
SPENFOURAB kembali menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya mengajar anak menjadi pintar, tetapi juga membentuk manusia yang kuat secara mental, sehat secara fisik, luhur dalam moral, dan berakar pada budaya disiplin serta nilai-nilai spiritual.
Di halaman sekolah sederhana itu, semangat besar kembali dinyalakan.
SPENFOURAB?
Pasti Bisa!
SPENFOURAB?
Jaya… Jaya… Aya!
Komentar
Posting Komentar