PUISI:Berdiri di Atas Titik Waktu yang Hilang di Selat Bali
PUISI:
Berdiri di Atas Titik Waktu yang Hilang di Selat BaliOleh I Gede Sugata Yadnya Manuaba
Di antara desir angin yang menyisir Selat Bali,
aku berdiri pada sebuah titik waktu yang hilang,
bukan hilang karena lenyap dari sejarah,
melainkan menyatu dalam samudra kesadaran semesta.
Air berkilauan memantulkan cahaya Surya,
ombak berirama melantunkan mantra alam,
seakan mengajarkan bahwa kehidupan
adalah perjalanan tanpa henti menuju pemahaman diri.
Dalam langkah Tirtayatra yang suci,
bersama Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal,
para guru, dan seluruh pegawai,
terhampar jalan pendidikan yang tidak hanya mendidik pikiran,
tetapi juga menyucikan jiwa.
Tirta yang menyentuh dahi
bukan sekadar air dalam pandangan fisika,
melainkan simbol transformasi kesadaran,
yang dalam teologi Hindu dikenal sebagai
jalan menuju penyelarasan antara Ātman dan Brahman.
Pada setiap percikan air suci,
tersimpan pesan ilmiah tentang kehidupan;
bahwa sebagaimana air mengalir mencari keseimbangan,
demikian pula manusia sejati
akan selalu mencari harmoni dalam Dharma.
Di titik waktu yang hilang itu,
aku melihat masa lalu dan masa depan bertemu,
seperti gelombang yang berpelukan di cakrawala,
menjadi saksi bahwa pendidikan sejati
tidak hanya mengisi kepala dengan pengetahuan,
tetapi menghidupkan hati dengan kebijaksanaan.
Wisata edukatif bukan sekadar perjalanan geografis,
melainkan laboratorium kehidupan yang bergerak;
tempat guru, dan pegawai belajar membaca alam,
menafsirkan budaya,
dan memahami kebesaran Tuhan melalui ciptaan-Nya.
Gunung, laut, pura, dan langit
menjadi buku terbuka tanpa batas halaman.
Setiap batu mengandung sejarah,
setiap pohon menyimpan ekologi,
setiap ombak mengajarkan ketekunan,
dan setiap pura mengingatkan manusia pada sumber asalnya.
Dalam perspektif ilmiah,
alam adalah sistem yang saling terhubung.
Dalam perspektif teologis Hindu,
itulah manifestasi Ṛta, hukum kosmis semesta,
yang menjaga keteraturan kehidupan.
Maka Tirtayatra ini bukan hanya perjalanan kaki,
tetapi perjalanan kesadaran;
bukan hanya perpindahan ruang,
tetapi perluasan cakrawala batin.
Aku menyaksikan wajah-wajah penuh syukur,
langkah-langkah yang ringan oleh kebersamaan,
dan senyum yang lahir dari rasa bhakti.
Di sanalah pendidikan menemukan makna terdalamnya:
membentuk manusia yang cerdas, berkarakter, dan spiritual.
Kepala sekolah memimpin dengan keteladanan,
guru mengajarkan melalui tindakan,
pegawai mengabdi dengan ketulusan,
semuanya berpadu menjadi satu yajña pendidikan,
persembahan mulia bagi generasi masa depan.
Di atas titik waktu yang hilang itu,
aku memahami bahwa sesungguhnya tidak ada yang hilang.
Setiap doa tersimpan dalam semesta,
setiap langkah tercatat dalam karma,
dan setiap kebaikan berbuah pada waktunya.
Selat Bali menjadi saksi bisu
bahwa perjalanan ini bukan sekadar kenangan,
melainkan investasi spiritual yang hidup,
menumbuhkan Śraddhā, memperkuat Bhakti,
serta mengokohkan Dharma dalam dunia pendidikan.
Semoga setiap tetes tirta yang diterima
menjadi cahaya pengetahuan yang menerangi pikiran.
Semoga setiap perjalanan edukatif
menjadi jembatan menuju kebijaksanaan.
Semoga setiap insan SMP Negeri 4 Abiansemal
senantiasa berjalan dalam tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Karena pada akhirnya,
berdiri di atas titik waktu yang hilang
adalah berdiri di hadapan keabadian,
tempat ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kemanusiaan
bertemu dalam satu kebenaran suci:
"Vidyā tanpa Dharma menjadi hampa,
Dharma tanpa Vidyā menjadi buta,
namun ketika keduanya bersatu,
lahirlah manusia yang mampu menerangi dunia."
Komentar
Posting Komentar