Pelaksanaan Persembahyangan Tilem Sasih Kasa

Pelaksanaan Persembahyangan Tilem Sasih Kasa di SMP Negeri 4 Abiansemal
Menyucikan Diri, Meneguhkan Dharma, Membangun Karakter Spiritual Generasi Bali

Tilem Sasih Kasa bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan momentum sakral untuk melakukan pemarisuda jagat—penyucian Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Di lingkungan SMP Negeri 4 Abiansemal, persembahyangan bersama di Pura Padmasana menjadi bagian nyata dari pembinaan karakter spiritual Hindu yang menanamkan nilai śraddhā, bhakti, disiplin, kesucian, dan harmoni sejak dini.

Kegiatan diawali dengan seluruh peserta didik mengenakan pakaian adat madya sebagai simbol penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sarana persembahyangan berupa pejati dan canang sari dipersiapkan bersama sebagai wujud ketulusan hati (yajña). Sebelum persembahyangan dimulai, seluruh warga sekolah melaksanakan mereresik, membersihkan lingkungan sekolah dan Pura Padmasana. Kegiatan ini mengandung makna bahwa kebersihan lahir merupakan jalan menuju kesucian batin.

Selanjutnya dilaksanakan matur piuning oleh Guru Agama Hindu dan Pinandita Jro Mangku Eka Suantara sebagai permohonan izin serta penyucian sarana upakara. Persembahyangan bersama dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan melalui Puja Tri Sandhya, Panca Sembah, serta diakhiri dengan nunas tirta dan bija sebagai lambang turunnya anugerah suci untuk menyucikan pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika).

Dalam kesempatan tersebut, Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal, I Made Antara, S.Pd., menyampaikan Dharma Wacana bahwa Tilem merupakan hari suci untuk melakukan penyucian diri (penglukatan atau pemarisuda) serta memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa, Sang Pelebur segala mala atau kekotoran batin. Melalui kekuatan Siwa Tattwa, manusia diajak meninggalkan sifat-sifat negatif dan membangun kehidupan yang penuh kebijaksanaan, kasih sayang, serta kedamaian.

Pemikiran Tu Baba (I Gede Sugata Yadnya Manuaba):
"Tilem bukanlah kegelapan yang harus ditakuti, melainkan ruang keheningan tempat cahaya kesadaran dilahirkan kembali. Ketika bulan menghilang dari pandangan, manusia diajak menyalakan terang di dalam dirinya. Inilah hakikat spiritual Tilem: melebur ego, membersihkan pikiran, mengendalikan hawa nafsu, dan menghidupkan kembali kesadaran akan Dharma."

Menurut Tu Baba, pendidikan Hindu di sekolah tidak berhenti pada penguasaan teori keagamaan, tetapi harus diwujudkan melalui pengalaman spiritual yang membentuk karakter. Persembahyangan bersama menjadi laboratorium kehidupan untuk melatih kerendahan hati, gotong royong, disiplin, serta rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Lebih jauh, Bapak kepala sekolah menegaskan bahwa mereresik lingkungan sebelum sembahyang merupakan simbol pembersihan hati, sedangkan nunas tirta bukan sekadar menerima air suci, tetapi menerima komitmen baru untuk hidup dalam kebenaran, kejujuran, dan kasih terhadap sesama serta alam semesta.
Semoga pelaksanaan Persembahyangan Tilem Sasih Kasa ini senantiasa menghadirkan kerahayuan jagat, keharmonisan Tri Hita Karana, serta membentuk generasi Hindu yang berkarakter mulia, berbudaya, cerdas, dan berlandaskan Dharma.

Om Namaḥ Śivāya.
Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om. 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

PENGIMBASAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

OSIS SPENFOURAB Menyemai Dharma melalui Pemilahan Sampah