RABU LITERASI — BELAJAR PUPUH, MERAWAT JIWA BALI

πŸ“šπŸŒΊ RABU LITERASI — BELAJAR PUPUH, MERAWAT JIWA BALI πŸŒΊπŸ“š
SMP Negeri 4 Abiansemal | 2 September 2026
Literasi bukan hanya tentang membaca aksara, tetapi juga tentang membaca nilai, membaca budaya, dan membaca kehidupan.

Pada Rabu Literasi, siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal belajar Pupuh sebagai bagian dari pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Bali. Kegiatan ini dibina langsung oleh Ibu Dra. Ni Putu Sriyati, selaku Wakil Kepala Sekolah, sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan sastra Bali.

Dalam tradisi Bali, Pupuh termasuk Sekar Alit/Macepat, yaitu bentuk sastra tembang yang memiliki keteraturan padalingsa, meliputi:
πŸ”Ή Guru Wilangan — jumlah suku kata (engang) pada setiap padalisan.
πŸ”Ή Guru Lagu — bunyi vokal pada akhir setiap baris.
πŸ”Ή Watek — karakter, suasana, dan rasa yang menjadi jiwa sebuah pupuh.

Karena itu, mempelajari pupuh bukan sekadar menghafalkan pola. Di dalamnya terdapat latihan ketelitian, disiplin, rasa bahasa, estetika, konsentrasi, dan pengendalian diri.

Secara spiritual-teologis Hindu Bali, sastra dan suara memiliki dimensi Ε›abda—suara yang diolah menjadi ungkapan bermakna. Ketika anak-anak belajar melantunkan pupuh dengan tertib, mereka sesungguhnya sedang belajar menyelaraskan pikiran (manas), perkataan (wacika), rasa (bhāva), dan tindakan (karma).

Nilai inilah yang menjadikan pupuh relevan bagi pendidikan karakter. Guru wilangan mengajarkan keteraturan, guru lagu mengajarkan keharmonisan, sedangkan watek mengajarkan kepekaan rasa.

Pupuh kemudian dapat dikembangkan menjadi guguritan, maupun karya sastra yang lebih panjang seperti wawacan. Dengan demikian, siswa tidak berhenti pada kemampuan macepuk atau menembang, tetapi juga mampu mencipta, memahami, dan menghidupkan kembali sastra Bali dalam konteks kehidupan modern.

🌿 Belajar pupuh berarti belajar berdisiplin dalam aturan.
🎢 Menembang berarti belajar mengharmoniskan suara dan rasa.
πŸ“– Memahami sastra berarti belajar memahami kehidupan.

πŸ•‰️ Melestarikan budaya berarti menjaga salah satu jalan dharma kepada leluhur dan generasi yang akan datang.
Rabu Literasi SMP Negeri 4 Abiansemal:
Dari aksara menjadi suara, dari suara menjadi rasa, dari rasa menjadi karakter, dan dari karakter menjadi manusia yang berbudaya dan ber-Dharma.

🌺 BALI — Bangkitkan Apresiasi, Lestarikan Identitas. 🌺

#RabuLiterasi
#SMPNegeri4Abiansemal
#WidyaParamartha
#BelajarPupuh
#PupuhBali
#BahasaBali
#SastraBali
#LiterasiBudaya
#LiterasiSpiritual
#TeologiHinduBali
#PelestarianBudaya
#SekarAlit
#Padalingsa
#BALI
#BangkitkanApresiasiLestarikanIdentitas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

PENGIMBASAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

OSIS SPENFOURAB Menyemai Dharma melalui Pemilahan Sampah