RESIK MUNGUT SAMPAH PLASTIK

📰 KORAN PELANGI WIDYA PARAMARTHA
SMP NEGERI 4 ABIANSEMAL — SPENFOURAB
Selasa, 22 September 2026

RESIK MUNGUT SAMPAH PLASTIK: MENUMBUHKAN BHAKTI SOSIAL DAN KESADARAN MENJAGA LINGKUNGAN

“Memulai dari Hal Kecil, Membiasakan Hidup Bersih, dan Menghormati Alam sebagai Bagian dari Kehidupan”

Bongkasa — Dalam rangka membangun karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan serta menumbuhkan semangat kebersamaan, warga SMP Negeri 4 Abiansemal melaksanakan kegiatan resik mungut sampah plastik pada Selasa, 22 September 2026.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata bhakti sosial warga sekolah terhadap lingkungan, khususnya melalui kepedulian terhadap kebersihan kawasan sekitar Desa Bongkasa dan persawahan Bet Tegeh.

Sebelum kegiatan dimulai, Bapak I Made Antara, S.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal, memberikan arahan kepada seluruh peserta. Beliau mengajak siswa untuk tidak memandang kegiatan membersihkan lingkungan sebagai pekerjaan kecil atau sederhana, melainkan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan tanggung jawab bersama.

> **“Supaya siswa ikut peduli akan kebersihan. Mulailah dari hal kecil dan tanamkan kebiasaan hidup bersih di manapun berada.”**

Pesan tersebut menjadi landasan penting bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Pendidikan juga hadir ketika peserta didik belajar melihat persoalan lingkungan, mengambil tindakan, bekerja bersama, dan bertanggung jawab terhadap ruang hidup yang digunakan bersama.

🌿 Resik sebagai Pendidikan Karakter
Kegiatan mungut sampah plastik memberikan pengalaman langsung kepada siswa bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab semua orang. Sampah yang terlihat kecil apabila terus dibiarkan dapat terakumulasi dan mengganggu kebersihan serta kenyamanan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, siswa diajak membangun kebiasaan sederhana: melihat sampah, mengambilnya, memilahnya, dan menempatkannya pada tempat yang semestinya.
Dalam perspektif pendidikan karakter, kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang dapat membentuk kesadaran yang lebih besar. Anak-anak tidak hanya belajar mengenai kebersihan secara teoritis, tetapi mengalami sendiri bagaimana sebuah lingkungan menjadi lebih bersih melalui tindakan bersama.

🕉️ Teologi Hindu Bali: Menjaga Alam sebagai Wujud Bhakti

Dalam kesadaran Hindu Bali, lingkungan bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia. Alam merupakan bagian dari Bhuana Agung, sedangkan manusia sebagai Bhuana Alit hidup di dalam keterhubungan tersebut.
Kesadaran ini dapat dikaitkan dengan nilai Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan atau Palemahan.

Karena itu, memungut sampah plastik bukan sekadar aktivitas kebersihan. Ia dapat menjadi bentuk sederhana dari bhakti kepada kehidupan, sebab manusia turut menjaga ruang alam tempat dirinya hidup.

Pemikiran Tim Redaksi:
Bhakti tidak selalu hadir dalam bentuk upacara besar. Terkadang bhakti hadir ketika tangan kita bersedia mengambil satu sampah yang bukan milik kita, kemudian meletakkannya pada tempat yang benar. Dari tindakan kecil lahir kebiasaan; dari kebiasaan lahir karakter; dan dari karakter lahir budaya kehidupan yang bersih dan harmonis.

🌾 Belajar dari Lingkungan Desa dan Persawahan

Kawasan Desa Bongkasa dan persawahan Bet Tegeh menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi peserta didik. Lingkungan desa dan persawahan bukan hanya tempat yang dilalui, tetapi juga bagian dari ruang kehidupan masyarakat.

Dengan terlibat langsung dalam kegiatan resik, siswa belajar memahami bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga kualitas kehidupan masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menanamkan kesadaran bahwa kemajuan pendidikan hendaknya berjalan seiring dengan kepedulian ekologis. Sekolah yang berkarakter bukan hanya melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

♻️ Sampah Plastik Terkumpul di Lapangan Desa Bongkasa

Dalam kegiatan resik mungut sampah plastik kali ini, para siswa berhasil mengumpulkan banyak sampah plastik yang ditemukan di sepanjang kawasan kegiatan.

Seluruh sampah plastik yang telah dikumpulkan kemudian dibawa dan dikonsentrasikan di Lapangan Desa Bongkasa. Kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama antara SMP Negeri 4 Abiansemal dengan Pemerintah Desa Bongkasa.

Kerja sama tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan masyarakat dalam membangun budaya peduli lingkungan. Sekolah memberikan pendidikan karakter, sedangkan masyarakat menjadi ruang nyata bagi peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut.

🌱 Dari Resik Menuju Budaya Bersih

Kegiatan resik mungut sampah plastik hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Nilai terpenting dari kegiatan ini adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat diteruskan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Siswa diharapkan mampu membawa semangat resik ke mana pun berada: di sekolah, di rumah, di lingkungan banjar, di tempat umum, maupun ketika berada di alam.

Pemikiran Tim Redaksi:
Jangan menunggu lingkungan bersih baru kita peduli. Kepedulianlah yang membuat lingkungan menjadi bersih. Jangan menunggu orang lain bergerak; satu tangan yang memungut sampah dapat menjadi awal bagi tangan-tangan lainnya untuk melakukan hal yang sama.

🕉️ Resik, Bhakti, dan Paramartha

Kegiatan ini selaras dengan semangat Widya Paramartha, bahwa ilmu pengetahuan hendaknya tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat.

Widya memberikan kesadaran.
Paramartha mengarahkan kesadaran tersebut kepada kemanfaatan dan nilai luhur.

Maka, pendidikan lingkungan di SMP Negeri 4 Abiansemal bukan sekadar mengajarkan bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya. Lebih jauh, pendidikan tersebut menanamkan kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keharmonisan kehidupan.

Resik mungut sampah plastik menjadi sebuah pembelajaran sederhana namun bermakna:
bersih lingkungannya,
sehat kehidupannya,
peduli manusianya,
harmonis alamnya,
dan luhur karakternya.

🌺 Salam Resik dari SPENFOURAB

Melalui kegiatan Resik Mungut Sampah Plastik, keluarga besar SMP Negeri 4 Abiansemal terus menumbuhkan budaya sekolah yang peduli, gotong royong, dan berwawasan lingkungan.

Semoga gerakan kecil ini menjadi benih kesadaran yang tumbuh menjadi karakter dalam diri setiap peserta didik:

> **“Mulailah dari hal kecil. Biasakan hidup bersih. Peduli di mana pun berada. Karena menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan.”**

SPENFOURAB — Bersama Menjaga Lingkungan, Bersama Membangun Karakter.

Koran Pelangi Widya Paramartha
SMP Negeri 4 Abiansemal
Selasa, 22 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

PENGIMBASAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

OSIS SPENFOURAB Menyemai Dharma melalui Pemilahan Sampah