WISATA EDUKASI TETAP BERMAKNA: PERPUSTAKAAN MENJADI RUANG BELAJAR DAN RESEPSI KARYA SASTRA

📰 KORAN PELANGI WIDYA PARAMARTHA SPENFOURAB
Rabu, 16 September 2026

📚 WISATA EDUKASI TETAP BERMAKNA: PERPUSTAKAAN MENJADI RUANG BELAJAR DAN RESEPSI KARYA SASTRA

“Meelali ke Perpustakaan Sambilang Melajah, Membaca Sambilang Memaknai”

SMP Negeri 4 Abiansemal — Rabu, 16 September 2026

Program tahunan Wisata Edukasi/Melali Sambilang Melajah SMP Negeri 4 Abiansemal tetap menghadirkan semangat pembelajaran bagi seluruh siswa. Bagi siswa-siswi kelas IX yang tidak mengikuti kegiatan wisata edukasi, proses pembelajaran dilaksanakan di lingkungan sekolah, khususnya di Perpustakaan Widya Paramartha, dalam suasana tertib, literatif, dan penuh makna.

Kegiatan tersebut dilaksanakan atas petunjuk dan arahan Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal, Bapak I Made Antara, S.Pd. Para pengelola Perpustakaan Widya Paramartha, guru BK, guru kelas IX, serta panitia wisata edukasi yang berhalangan mengikuti perjalanan turut mengambil peran dalam memastikan siswa yang berada di sekolah tetap mendapatkan pendampingan dan kegiatan pendidikan yang bermakna.

📖 Perpustakaan Menjadi Ruang Belajar

Sejak kegiatan dimulai, para siswa diarahkan untuk memilih dan membaca buku yang tersedia di Perpustakaan Widya Paramartha. Mereka membaca secara mandiri hingga waktu pulang sekolah.
Namun kegiatan tidak berhenti pada aktivitas membaca.

Setiap siswa diberikan kesempatan untuk membedah, memahami, menganalisis, dan memberikan tanggapan terhadap buku yang dibacanya. Hasil pembacaan tersebut dituangkan dalam bentuk analisis atau resepsi karya sastra.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui isi sebuah buku, tetapi juga belajar menemukan:
gagasan utama dan pesan pengarang;
tokoh, penokohan, alur, latar, dan konflik;
nilai moral dan sosial;
nilai budaya dan kearifan lokal;
penggunaan bahasa;
keindahan serta kekuatan karya;
serta tanggapan pribadi siswa terhadap karya yang dibacanya.
Dengan demikian, membaca berkembang menjadi aktivitas berpikir, merasakan, menafsirkan, dan memaknai.

🧠 Dari Membaca Menuju Berpikir Kritis

Resepsi karya sastra memberikan ruang kepada siswa untuk menjadi pembaca yang aktif. Siswa tidak sekadar menerima isi buku, tetapi berusaha membangun pemahamannya sendiri berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandangnya.
Dalam perspektif pendidikan, kegiatan tersebut melatih literasi membaca, literasi berpikir, kemampuan analisis, komunikasi tertulis, kreativitas, serta refleksi diri.

Perpustakaan pun tidak hanya dipahami sebagai tempat menyimpan buku, tetapi sebagai ruang tumbuhnya pengetahuan dan karakter.

🌿 Pemikiran Tu Baba: “Buku Dibaca, Makna Dihidupkan”
Dalam perspektif Pemikiran Tu Baba, membaca merupakan sebuah perjalanan kesadaran.

> **“Buku yang hanya dibaca akan menjadi pengetahuan; buku yang dipahami akan menjadi wawasan; sedangkan buku yang dimaknai dan diamalkan akan menjadi kebijaksanaan.”**

Karena itu, kegiatan literasi di Perpustakaan Widya Paramartha diarahkan agar siswa tidak berhenti pada kemampuan membaca teks, tetapi mampu membaca makna di balik teks.
Dalam konteks pendidikan Bali, proses tersebut dapat dimaknai melalui prinsip Tri Kaya Parisudha: berpikir yang baik, berkata yang baik, dan berbuat yang baik.

Membaca melatih manacika melalui proses berpikir; menuliskan resepsi melatih wacika melalui bahasa yang baik; dan menghidupkan nilai positif dari bacaan menjadi bagian dari kayika, yaitu tindakan yang baik.

📝 Karya Siswa Diperiksa Guru

Setelah menyelesaikan kegiatan membaca dan analisis, siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya kepada guru yang bertugas pada hari tersebut.

Hasil pekerjaan kemudian diperiksa sebagai bagian dari proses pemantauan dan evaluasi kegiatan literasi.
Dengan demikian, meskipun sebagian siswa kelas IX mengikuti wisata edukasi di luar sekolah, siswa yang tetap berada di sekolah tetap memperoleh pengalaman belajar yang terarah dan terukur.

🏫 Pendidikan Tidak Berhenti di Tempat Wisata

Wisata edukasi memberikan pengalaman belajar melalui perjalanan dan lingkungan baru. Sementara itu, siswa yang berada di sekolah memperoleh pengalaman belajar melalui buku, perpustakaan, refleksi, dan analisis.
Keduanya memiliki ruang pembelajaran masing-masing.

Melali sambilang melajah bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang bagaimana setiap pengalaman dapat menjadi sumber pengetahuan.
Demikian pula, membaca sambilang memaknai bukan sekadar duduk bersama buku, melainkan menjadikan buku sebagai jendela untuk memahami kehidupan.

🌈 WIDYA PARAMARTHA: MERDEKA BACA, JADI JUARA

Kegiatan Rabu, 16 September 2026 menjadi salah satu bentuk nyata semangat Perpustakaan Widya Paramartha dalam membangun budaya literasi di SMP Negeri 4 Abiansemal.
Perpustakaan menjadi ruang yang mempertemukan buku, siswa, guru, gagasan, dan pengalaman.

Dari halaman buku lahir pertanyaan.
Dari pertanyaan lahir pemikiran.
Dari pemikiran lahir kesadaran.
Dan dari kesadaran lahirlah karakter.
Inilah pendidikan yang tidak sekadar mengejar nilai, tetapi menumbuhkan manusia yang mampu membaca dunia sekaligus membaca dirinya sendiri.

📚 Slogan Literasi dan Numerasi Hari Ini
“Membaca bukunya, memahami isinya, menganalisis maknanya, menuliskan resepsinya, dan menghidupkan nilai positifnya.”
---
KORAN PELANGI SPENFOURAB
Tim Redaksi Widya Paramartha
Perpustakaan SMP Negeri 4 Abiansemal
WIDYA PARAMARTHA
“Merdeka Baca, Jadi Juara.”
Salam Literasi • Salam Pendidikan • Salam Ngwacen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

PENGIMBASAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

OSIS SPENFOURAB Menyemai Dharma melalui Pemilahan Sampah