ADAT BERBALUT NASIONALISME

KORAN WIJA KASAUR SPENFOURAB
Jumat, 13 Februari 2026

Oleh: Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal

🌺 ADAT BERBALUT NASIONALISME

Bulan Bahasa Bali Menggema, “Satu Nusa Satu Bangsa” Menggetarkan Jiwa
Suasana halaman SMP Negeri 4 Abiansemal pada Jumat pagi, 13 Februari 2026, tampak berbeda. Para siswa-siswi, bapak/ibu guru, serta pegawai mengenakan pakaian adat Bali dengan penuh anggun dan berwibawa. Kamen terikat rapi, selendang melingkar penuh makna, udeng terpasang dengan sikap hormat. Namun pagi itu bukan hanya tentang keindahan busana tradisi.
Di tengah semarak perayaan Bulan Bahasa Bali, satu momentum sakral mengguncang batin seluruh warga sekolah: kumandang lagu Satu Nusa Satu Bangsa dinyanyikan bersama dengan penuh penghayatan.
Busana boleh adat Bali.
Bahasa boleh Bali.
Namun jiwa tetap Indonesia.

🌿 Bahasa Daerah dan Nasionalisme: Bukan Dua Kutub, Melainkan Satu Nafas

Secara ilmiah, identitas kebangsaan tidak bertentangan dengan identitas kedaerahan. Dalam perspektif sosiologi budaya, semakin kuat akar lokal seseorang, semakin kokoh pula identitas nasionalnya. Bahasa daerah adalah fondasi; bahasa nasional adalah jembatan; keduanya membentuk peradaban.

Bulan Bahasa Bali bukanlah nostalgia romantik masa lalu. Ia adalah gerakan sadar budaya. Ketika siswa nyurat aksara Bali, masatua, atau membaca puisi Bali, sesungguhnya mereka sedang memperkuat daya pikir linguistik, daya rasa estetika, dan daya cipta kebudayaan.

Dan ketika setelah itu mereka berdiri tegap menyanyikan “Satu Nusa Satu Bangsa”, di sanalah sintesis itu terjadi:
Lokal kuat, nasional kokoh.

πŸ”₯ Getaran Nasionalisme di Tengah Semangat Budaya

Nada pertama lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” menggema.
Suara siswa kelas VII, VIII, dan IX menyatu.
Guru-guru berdiri tegak.
Pegawai sekolah ikut larut dalam getaran kebangsaan.
Tak ada perbedaan kasta sosial.
Tak ada perbedaan latar belakang.
Yang ada hanya satu identitas: INDONESIA.

Dalam perspektif pendidikan karakter, momentum ini adalah praktik nyata Profil Pelajar Pancasila:
Berkebinekaan global
Beriman dan bertakwa
Mandiri
Gotong royong
Bernalar kritis
Kreatif
Nasionalisme bukan sekadar simbol. Ia adalah energi moral.

πŸ“– Landasan Spiritual dan Kebangsaan

Dalam ajaran Hindu dikenal sloka:
“Vasudhaiva Kutumbakam”
Makna: “Seluruh dunia adalah satu keluarga.”

Nilai ini sejalan dengan semangat lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”. Kita berbeda suku, bahasa, dan adat, namun satu tanah air, satu bangsa.
Perayaan Bulan Bahasa Bali tidak memisahkan kita dari Indonesia. Justru memperkaya Indonesia.
Bali tanpa Indonesia akan kehilangan pelindung kebangsaannya.
Indonesia tanpa Bali akan kehilangan salah satu mahkota budayanya.

πŸŽ“ Pendidikan yang Menyatukan Tradisi dan Modernitas

Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah, semangat integrasi budaya dan nasionalisme terus ditanamkan. Pendidikan di SPENFOURAB bukan hanya transfer ilmu, melainkan transformasi karakter.
Bulan Bahasa Bali tahun 2026 ini tidak berhenti pada lomba dan seremonial. Ia menjadi laboratorium kebudayaan:
Siswa belajar identitas
Guru menguatkan nilai
Pegawai meneguhkan keteladanan
Dan ketika lagu kebangsaan dinyanyikan, semua menjadi satu harmoni.

🌺 Filosofi Pakaian Adat dan Nasionalisme

Secara simbolik:
- Udeng melambangkan pengendalian pikiran
- Kamen melambangkan kesopanan dan etika
- Selendang melambangkan pengikat diri
Ketika dikenakan sambil menyanyikan “Satu Nusa Satu Bangsa”, itu berarti:
Pikiran terkendali untuk bangsa.
Etika dijaga demi bangsa.
Diri diikat oleh cinta tanah air.

πŸ’‘ Inovasi Budaya yang Berkarakter
Tim Kreatif SPENFOURAB memaknai Bulan Bahasa Bali bukan sekadar agenda tahunan, tetapi gerakan peradaban sekolah.
Inovasi yang dibangun tahun ini antara lain:
Integrasi lagu nasional dalam setiap kegiatan budaya
Refleksi literasi kebangsaan setelah kegiatan berbahasa Bali
Dokumentasi digital budaya sekolah berbasis nasionalisme
Karena budaya tanpa nasionalisme bisa rapuh.
Nasionalisme tanpa budaya bisa kosong.

🌞 Pesan untuk Generasi Muda

Wahai siswa SPENFOURAB,
Pakailah adatmu dengan bangga.
Ucapkan bahasamu dengan santun.
Nyanyikan lagu bangsamu dengan jiwa.
Jangan pernah merasa kecil karena budaya lokalmu.
Justru dari situlah engkau menjadi besar sebagai bangsa Indonesia.
Bulan Bahasa Bali mengajarkan kita akar.
“Satu Nusa Satu Bangsa” mengajarkan kita arah.
Akar dan arah harus berjalan bersama.

✨ Penutup: SPENFOURAB, Miniatur Indonesia

Jumat, 13 Februari 2026 menjadi saksi:
Di halaman sekolah yang sederhana, Indonesia berdiri megah.
Di antara kain adat dan selendang warna-warni, merah putih tetap berkibar dalam dada.

SPENFOURAB bukan hanya sekolah.
Ia adalah ruang peradaban.
Ia adalah miniatur Indonesia.
Dan hari itu, kita membuktikan:
Budaya Bali tumbuh subur.
Nasionalisme Indonesia berkobar luhur.
Jayalah Bahasa Bali.
Jayalah Indonesia.
Tim Kreatif SPENFOURAB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

Ujian Presentasi Hari

Membangun Disiplin dan Etika Siswa di SMP Negeri 4 Abiansemal