Dari Bahasa, Kita Muliakan Jiwa
📰 KORAN WIJA KASAUR SPENFOURAB
SMP NEGERI 4 ABIANSEMAL
Kamis, 12 Februari 2026
🌺 BULAN BAHASA BALI 2026
“Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa”
Bahasa Bali sebagai Urat Nadi dan Akar Kebudayaan
Oleh: Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal
PEMBUKAAN YANG SARAT MAKNA SPIRITUAL DAN INTELEKTUAL
Kamis, 12 Februari 2026, halaman SMP Negeri 4 Abiansemal bergetar oleh vibrasi kebudayaan dan spiritualitas. Dengan nuansa adat Bali yang anggun dan khidmat, Bulan Bahasa Bali resmi dibuka untuk pelaksanaan tanggal 12 s.d. 13 Februari 2026.
Suasana terasa sakral, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum pemuliaan jiwa melalui bahasa, sastra, dan budaya Bali.
Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal, Bapak I Made Antara, S.Pd, dalam sambutannya tampil lugas, tegas, dan penuh kharisma dengan menggunakan Bahasa Bali. Beliau menyampaikan bahwa tema Bulan Bahasa Bali tahun ini adalah:
“Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa”
Tema yang bukan hanya indah secara bahasa, tetapi agung secara filosofi dan teologis.
🌿 FILOSOFI TEMA: PEMULIAAN JIWA MENUJU KESADARAN ROHANI
Dalam uraian beliau yang bernas dan penuh daya gugah, Bapak I Made Antara, S.Pd menegaskan:
Atma Kerthi berarti pemuliaan jiwa, pangresikan batin, serta usaha spiritual untuk meluruskan pikiran, menata niat, dan menguatkan karya utama.
Sementara itu,
Udiana Purnaning Jiwa mengandung makna tumbuhnya kesempurnaan batin, kepenuhan rasa, dan kesadaran manusia sebagai makhluk rohani.
Beliau menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya membangun kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga kecerdasan spiritual (SQ) dan emosional (EQ). Bahasa dan sastra Bali menjadi medium transformasi batin.
Secara ilmiah, bahasa adalah sistem simbol yang membentuk struktur berpikir manusia. Dalam perspektif neurolinguistik, bahasa memengaruhi cara manusia memaknai realitas. Maka, ketika generasi muda dibiasakan berpikir dan merasakan melalui nilai-nilai adiluhung bahasa Bali, sesungguhnya sedang dibangun fondasi karakter dan identitas yang kokoh.
📖 BULAN BAHASA BALI: ALTAR PEMULIAAN JIWA
Dalam pidatonya yang penuh penekanan, beliau menyampaikan dengan sangat mendalam:
“Bulan Bahasa Bali warsane mangkin dados altar pemuliaan jiwa malarapan basa miwah sastra Bali.”
Artinya, Bulan Bahasa Bali tahun ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah altar suci pemuliaan jiwa.
Beliau menegaskan dengan suara yang mantap:
Basa nenten ja wantah kasuratang kemanten, nanging patut karesapin.
Sastra punika boya ja kawacanin kemanten, nanging patut kawerdiyang kalanguannyane.
Budaya nenten kapintonang, nanging kalaksanayang manados laku ring kahuripan.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa bahasa tidak cukup ditulis, tetapi harus diresapi. Sastra tidak cukup dibaca, tetapi harus dihayati. Budaya tidak cukup dipentaskan, tetapi harus dijalankan dalam kehidupan nyata.
🔬 RELIGIUS DAN ILMIAH: SINERGI YANG TAK TERPISAHKAN
Dalam perspektif teologi Hindu, bahasa adalah wahana vibrasi suci. Dalam Ṛgveda dinyatakan:
“Vācam asthāpayan devāḥ”
Para dewa menegakkan bahasa sebagai kekuatan ilahi.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium sakral pembentuk kesadaran.
Secara ilmiah, kebudayaan adalah sistem nilai yang diwariskan lintas generasi melalui bahasa. Jika bahasa melemah, maka transmisi nilai juga akan melemah. Karena itu, menjaga Bahasa Bali berarti menjaga memori kolektif dan struktur moral masyarakat Bali.
🌺 BAHASA BALI: URAT NADI DAN AKAR KEBUDAYAAN
Bapak Kepala Sekolah menegaskan dengan penuh ketegasan:
Bahasa Bali adalah urat nadi dan akar kebudayaan Bali.
Urat nadi menyalurkan kehidupan. Akar menopang pohon agar tetap tegak. Jika akar rapuh, pohon akan tumbang. Jika bahasa melemah, identitas akan goyah.
Di era digital yang penuh distraksi dan globalisasi, menjaga bahasa daerah bukan sikap anti-modern. Justru itulah bentuk kecerdasan kultural. Generasi yang kuat adalah generasi yang mampu berdiri di atas akar budayanya sendiri, sambil tetap terbuka terhadap dunia.
🎓 IMPLEMENTASI DI SPENFOURAB
Sebagai sekolah yang progresif dan inovatif, SMP Negeri 4 Abiansemal menjadikan Bulan Bahasa Bali sebagai ruang pembelajaran holistik:
- Lomba nyurat aksara Bali
- Pidarta Bali
- Pentas seni tradisional
- Literasi sastra Bali
- Sebagai ajang dialog kebudayaan
- Internaliasi nilai karakter melalui bahasa daerah
Seluruh kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual dan kebanggaan identitas.
🌟 PESAN TEGAS UNTUK GENERASI MUDA
Dalam penutup sambutannya, Bapak I Made Antara, S.Pd menyampaikan pesan yang menggugah:
Basa Bali sampunang dados basa kenangan kepungkur wekas kemanten;
yening dados, mangsa basa Bali pinaka pangurip, basa sane nguriping jagat miwah jiwa prana.
Artinya:
Bahasa Bali jangan sampai menjadi bahasa nostalgia. Ia harus menjadi bahasa kehidupan.
Beliau mengajak seluruh siswa untuk:
Bangga berbahasa Bali
Menggunakan bahasa Bali dengan santun dan tepat
Menjadikan sastra Bali sebagai sumber inspirasi karakter
Menghidupi budaya Bali dalam perilaku sehari-hari
Karena sejatinya, Atma Kerthi bukan hanya konsep, tetapi laku.
✨ PENUTUP: DARI BAHASA MENUJU KESADARAN
Bulan Bahasa Bali 2026 di SMP Negeri 4 Abiansemal bukan sekadar kegiatan dua hari. Ia adalah gerakan kesadaran.
Bahasa Bali bukan hanya simbol lokalitas, tetapi jalan menuju kematangan spiritual dan kemuliaan jiwa.
Ketika siswa belajar aksara Bali, sesungguhnya mereka sedang belajar menulis jati diri.
Ketika mereka membaca sastra Bali, sesungguhnya mereka sedang membaca nilai kehidupan.
Ketika mereka menghidupi budaya Bali, sesungguhnya mereka sedang memuliakan atma.
Spenfourab tidak hanya mencetak siswa cerdas.
Spenfourab membangun jiwa yang sadar, berkarakter, dan berakar budaya.
🌺
Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa
Dari Budaya, Kita Sempurnakan Rasa.
—
Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal
Komentar
Posting Komentar