Harmoni Lintas Iman di Bumi Spenfourab
π° KORAN WIJA KASAUR SPENFOURAB
Edisi Kamis, 19 Pebruari 2026
“Puasa dalam Cahaya Ilmiah dan Religius: Harmoni Lintas Iman di Bumi Spenfourab”
Oleh Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal
Om Swastyastu π
Salam Sejahtera bagi kita semua,
Syalom, Namo Buddhaya, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
πΏ Spirit Kebersihan, Spirit Kesucian
Kamis siang yang cerah di lingkungan SMP Negeri 4 Abiansemal menjadi saksi lahirnya percakapan bermakna. Setelah mendampingi siswa melaksanakan kegiatan kebersihan sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan budaya disiplin, para guru tetap setia menunggu hingga pukul 15.30 WITA.
Di sela waktu itu, empat guru muda lintas agama duduk berdampingan dalam suasana akrab dan ilmiah:
Bapak Nandi (Agama Islam)
Bapak Handre (Agama Kristen)
Bapak Eky (Agama Buddha)
Bapak I Gede Sugata Yadnya Manuaba (Agama Hindu)
Diskusi sederhana namun sarat makna itu mengangkat satu tema universal: Konsep Puasa dalam Perspektif Lintas Agama dan Implementasinya dalam Pendidikan.
π Puasa dalam Islam: Madrasah Pengendalian Diri
Bapak Nandi menjelaskan bahwa dalam Islam, puasa (shaum) bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri, empati sosial, serta meningkatkan ketakwaan.
Secara ilmiah, puasa terbukti meningkatkan metabolisme tubuh, membantu detoksifikasi, serta melatih kontrol emosi melalui regulasi hormon. Secara spiritual, puasa menjadi madrasah kesabaran dan keikhlasan.
Beliau menegaskan,
“Puasa mendidik jiwa untuk jujur meskipun tidak diawasi, dan itulah inti pendidikan karakter.”
✝ Puasa dalam Kekristenan: Refleksi dan Pertobatan
Bapak Handre memaparkan bahwa dalam tradisi Kristen, puasa dilakukan sebagai bentuk pertobatan, refleksi diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, khususnya pada masa Pra-Paskah (Lent).
Puasa dalam Kekristenan sering disertai doa dan aksi sosial. Secara psikologis, puasa melatih kesadaran diri (self-awareness) dan empati terhadap penderitaan sesama.
Beliau menyampaikan,
“Puasa bukan sekadar mengurangi makan, tetapi mengurangi ego dan memperbanyak kasih.”
☸ Puasa dalam Buddhisme: Jalan Tengah dan Pengendalian Keinginan
Bapak Eky menjelaskan bahwa dalam ajaran Buddha, praktik menahan diri dari makan pada waktu tertentu merupakan bagian dari disiplin (sila) dan pengendalian nafsu keinginan (tanha).
Puasa dalam perspektif Buddhisme bukan penyiksaan diri, melainkan latihan kesadaran (mindfulness). Secara ilmiah, latihan pengendalian diri meningkatkan fungsi korteks prefrontal, pusat pengambilan keputusan dan moralitas.
Beliau menekankan,
“Mengurangi keinginan adalah langkah menuju kebahagiaan sejati.”
π Puasa dalam Hindu: Tapa Brata Penyucian Diri
Bapak I Gede Sugata Yadnya Manuaba memaparkan bahwa dalam Hindu dikenal konsep Upawasa (mendekatkan diri kepada Tuhan) dan Tapa Brata sebagai laku spiritual.
Puasa dalam Hindu bukan sekadar fisik, tetapi juga puasa pikiran dan ucapan. Dalam ajaran Yoga Patanjali, pengendalian diri (Yama dan Niyama) menjadi fondasi kesucian batin.
Beliau menyampaikan secara karismatik:
“Puasa adalah proses melebur ego, membersihkan pikiran, dan menyalakan cahaya kesadaran dalam diri.”
Secara ilmiah, praktik tapa dan puasa terbukti menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan memperkuat ketahanan mental.
π Titik Temu: Pendidikan Karakter Berbasis Spiritualitas
Diskusi lintas agama ini melahirkan satu kesimpulan besar:
✨ Semua agama mengajarkan pengendalian diri, empati sosial, dan penyucian batin melalui puasa.
Inilah yang kemudian dikaitkan dengan konsep pembelajaran karakter di SMP Negeri 4 Abiansemal.
Puasa tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi bisa menjadi inspirasi pedagogis dalam membentuk siswa yang:
Disiplin
Empatik
Jujur
Toleran
Reflektif
π Inovasi: Pelajaran Lintas Agama di Spenfourab
Diskusi ini juga melahirkan gagasan inovatif:
πΉ Penguatan literasi lintas agama
πΉ Forum diskusi moderasi beragama bagi siswa
πΉ Proyek kolaboratif “Nilai Universal dalam Agama”
πΉ Refleksi karakter berbasis praktik spiritual universal
Langkah ini sejalan dengan semangat toleransi dan moderasi beragama yang menjadi fondasi pendidikan nasional.
πΊ Harmoni dalam Perbedaan
Empat guru muda dari empat agama berbeda duduk tanpa sekat, berdialog tanpa prasangka, dan tertawa tanpa jarak.
Inilah wajah pendidikan sejati.
Inilah wujud Bhineka Tunggal Ika yang hidup, bukan sekadar semboyan.
Di bawah langit Abiansemal, harmoni itu tumbuh.
Di halaman sekolah, toleransi itu bersemi.
Di ruang diskusi sederhana, lahir gagasan besar untuk masa depan.
π Penutup Reflektif
Puasa mengajarkan kita menahan diri.
Pendidikan mengajarkan kita mengarahkan diri.
Jika keduanya bersatu, lahirlah generasi yang kuat secara intelektual dan luhur secara spiritual.
Semoga semangat lintas iman ini terus menjadi cahaya di SMP Negeri 4 Abiansemal,
membentuk insan berkarakter, berilmu, dan berbhakti kepada bangsa dan Tuhan Yang Maha Esa.
Om Santih, Santih, Santih Om π
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syalom
Namo Buddhaya
Komentar
Posting Komentar