Literasi Karakter, Disiplin, dan Kesadaran Diri
KORAN WIJA KESAUR SPENFOURAB
Literasi Karakter, Disiplin, dan Kesadaran Diri
Oleh: Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal
Sekolah bukan sekadar tempat hadir dan pulang. Sekolah adalah ruang pembentukan jiwa, tempat watak ditempa, karakter diuji, dan masa depan mulai ditulis. SMP Negeri 4 Abiansemal berdiri dengan visi dan misi yang jelas, bukan untuk dimain-mainkan, bukan untuk ditawar, apalagi dilanggar. Di sinilah nilai, disiplin, dan prestasi disatukan dalam satu tarikan napas pendidikan.
Dalam arahan literasi yang tegas, keras, pedas, namun penuh tanggung jawab moral, Bapak I Made Antara, S.Pd, selaku Kepala SMP Negeri 4 Abiansemal, menyampaikan pesan yang tidak untuk ditafsirkan setengah-setengah:
aturan sekolah wajib ditaati, bukan didiskusikan ulang sesuai selera pribadi.
Disiplin adalah Pondasi, Bukan Pilihan
Disiplin bukan hukuman. Disiplin adalah alat kendali diri. Tanpa disiplin, kecerdasan berubah menjadi kesombongan, bakat menjadi sia-sia, dan waktu menjadi musuh. Sekolah telah menyediakan program, tata tertib, dan arah yang jelas. Tugas siswa hanyalah satu: ikuti dengan penuh kesadaran.
“Kendalikan dirimu sebelum orang lain yang mengendalikanmu.”
“Gunakan waktumu sebaik-baiknya, karena waktu tidak pernah menunggu siswa yang malas.”
Setiap menit di sekolah adalah kesempatan membangun diri. Mengabaikan aturan sama dengan mengabaikan masa depan sendiri. Sekolah tidak pernah rugi oleh pelanggaran siswa—yang rugi adalah siswa itu sendiri.
Tahu Diri, Rendah Hati, dan Isi Diri
Dalam pesan yang tajam namun mendidik, beliau menegaskan:
“Jangan sombong. Katakan pada dirimu: saya tahu diri, saya tahu posisi, saya tahu tujuan.”
Kerendahan hati adalah tanda kecerdasan sejati. Prestasi bukan untuk pamer, melainkan untuk mengabdi pada proses. Siswa diminta untuk terus melakukan peningkatan prestasi diri, mengisi diri dengan ilmu, etika, dan kerja keras—bukan dengan keluhan, pembangkangan, atau pembenaran diri.
Taat Sekolah, Taat Negara
Aturan sekolah berjalan seiring dengan aturan nasional. Keduanya bukan beban, melainkan penjaga arah hidup. Siapa yang terbiasa taat pada aturan kecil di sekolah, kelak akan mampu taat pada hukum dan tanggung jawab besar di masyarakat.
Karakter tidak lahir dari kebebasan tanpa batas, tetapi dari keteraturan yang disadari.
Landasan Sloka Hindu: Kendali Diri dan Kesadaran
Nilai-nilai yang disampaikan sejalan dengan ajaran suci Hindu. Salah satu sloka yang relevan adalah:
Bhagavadgītā VI.5
Uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet |
Ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ ||
Makna:
Seseorang harus mengangkat dirinya sendiri dengan pengendalian diri, bukan merendahkan dirinya. Diri sendirilah sahabat terbaik, dan diri sendirilah musuh terbesar.
Sloka ini menegaskan bahwa masa depan siswa ditentukan oleh sikapnya sendiri, bukan oleh guru, bukan oleh sekolah, bukan oleh keadaan.
Sloka lain yang meneguhkan disiplin dan mendengar nasihat:
Manusmṛti II.237
Ācārāt labhate hy āyuḥ ācārāt dhanam akṣayam |
Ācārāt labhate vidyām ācārāt kiṁ na sādhyate ||
Makna:
Dari tata laku yang baik diperoleh umur panjang, kesejahteraan, dan ilmu pengetahuan. Dengan perilaku yang baik, apa yang tidak bisa dicapai?
Halaman Sekolah sebagai Ruang Sakral
Dalam penutupan arahan yang penuh wibawa, Bapak I Made Antara, S.Pd menegaskan pesan mendalam:
“Jadikanlah halaman sekolah sebagai tempat yang sakral dalam pendidikan karakter dan pendisiplinan. Ketika ada orang berbicara, dengarkan dengan baik.”
Halaman sekolah bukan tempat bercanda berlebihan, bukan ruang abai, tetapi ruang pembiasaan hormat, tertib, dan sadar etika. Mendengarkan adalah bentuk disiplin paling dasar—dan juga paling sering dilanggar.
Penegasan Akhir
Sekolah telah menyiapkan jalan. Guru telah memberi arah. Aturan telah jelas tertulis.
Kini tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab setiap siswa dengan tindakan, bukan kata-kata:
Apakah kalian ingin membangun diri, atau membiarkan diri dibangun oleh penyesalan di masa depan?
Karena sejatinya,
diri kalian hari ini adalah benih,
dan diri kalian esok hari adalah hasilnya.
—
Koran Wija Kesaur Spenfourab
Literasi yang Menyadarkan, Disiplin yang Membebaskan
Tim Kreatif SMP Negeri 4 Abiansemal
Komentar
Posting Komentar