LITERASI SEBAGAI CERMIN KEJUJURAN




📰 KORAN PELANGI SPENFOURAB
Edisi: Rabu, 29 April 2026

🌿 “PELANGI RASA DALAM SAYUR DAN LITERASI”

Pagi yang teduh di lingkungan SMP Negeri 4 Abiansemal menjadi saksi tumbuhnya harmoni antara olah pikir dan olah rasa. Dalam balutan Program BUSI (Rabu Literasi) yang dipadukan dengan gerakan makan sayur, hari ini bukan sekadar rutinitas—melainkan sebuah ritus pendidikan jiwa yang menyentuh kesadaran terdalam peserta didik.

Kegiatan diawali oleh sosok penuh kehangatan, Ibu Dra. Ni Putu Sriyati, yang dengan semangat karismatik memimpin tepuk penyemangat sebagai pembuka vibrasi pagi. Dalam kebijaksanaannya, beliau mengatur tatanan siswa dengan simbolik yang bermakna:

Siswa yang membawa sayur dipersilakan duduk di serambi kelas

Siswa yang belum membawa sayur tetap di halaman

Pemilahan ini bukan sekadar teknis, tetapi sebuah refleksi kesadaran diri—bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi pembelajaran.

🥬 “SAYUR SEBAGAI SARANA SPIRITUAL SOSIAL”

Kepala sekolah yang visioner, bapak I Made Antara, S.Pd hadir langsung mengisi ruang literasi dengan pesan mendalam. Beliau menekankan bahwa kesiapan dan tanggung jawab adalah fondasi utama dalam mengikuti setiap program sekolah.

Dalam nada tegas namun penuh kasih, beliau menyampaikan harapan besar:
bahwa seluruh siswa ke depan mampu membawa sayur sebagai bagian dari gerakan yang selaras dengan program pemerintah—yakni hidup sehat dan mandiri.

Lebih dari itu, beliau menawarkan gagasan yang sarat nilai teologis dan sosial:
* pertukaran sayur antar siswa.

Sebuah konsep sederhana namun agung, bahwa dalam saling bertukar, siswa belajar:

* merasakan karya tangan orang lain
* menghargai perbedaan rasa
* menumbuhkan empati dan kebersamaan

Inilah yang beliau sebut sebagai “Pelangi Rasa Sayur”—simbol persatuan dalam keberagaman, sebagaimana ajaran dharma yang mengajarkan keseimbangan antara diri, sesama, dan alam.

📖 “LITERASI SEBAGAI CERMIN KEJUJURAN”

Dalam sesi literasi, pendekatan yang diambil bukan sekadar membaca—melainkan membaca diri sendiri.
Siswa yang terlambat dipanggil satu per satu untuk menyampaikan alasan keterlambatan mereka.

Di sinilah nilai satya (kejujuran) diuji.
Setiap kata yang terucap menjadi cermin karakter.

Tidak berhenti di situ, bapak I Made Antara, S.Pd juga menguji kesiapan siswa secara acak.
Siswa yang dipanggil wajib menjawab dengan lantang: “Siap!” sebelum memberikan jawaban.

Sebuah latihan sederhana, namun sarat makna:
membangun kesigapan, keberanian, dan tanggung jawab verbal.

🔱 “PENUTUP: DISIPLIN SEBAGAI JALAN DHARMA”

Menutup rangkaian kegiatan, pesan tegas kembali diteguhkan:

Siswa yang belum membawa sayur diwajibkan membawa pada Rabu berikutnya

Siswa yang melanggar hari ini akan mendapatkan pembinaan melalui guru BK

Langkah ini bukan bentuk hukuman, melainkan upaya penyelarasan diri agar siswa mampu berjalan di jalur dharma—jalan kebenaran dan kedisiplinan.

🌈 EPILOG KARISMATIK
Hari ini, SMP Negeri 4 Abiansemal tidak hanya mengajarkan ilmu—
tetapi menanamkan rasa.

Dalam sayur yang sederhana, tersimpan makna kebersamaan.
Dalam literasi yang jujur, tumbuh karakter kepribadian.

Dan dalam setiap arahan bijak, tersirat doa:
agar generasi muda menjadi insan yang cerdas, sehat, dan berjiwa luhur.

Om Santih Santih Santih Om




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

Membangun Disiplin dan Etika Siswa di SMP Negeri 4 Abiansemal

Menjelang Hari Pendidikan Nasional