Tri Sandhya dalam Perspektif Teologis Hindu bagi Remaja Putri yang Mengalami Menstruasi

Tri Sandhya dalam Perspektif Teologis Hindu bagi Remaja Putri yang Mengalami Menstruasi:
Pendekatan Nivṛtti Mārga dan Pravṛtti Mārga dalam Konteks Etika Susila

Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba

ABSTRAK

Tulisan ini mengkaji secara teologis, etis, dan praktis mengenai pelaksanaan Puja Tri Sandhya bagi remaja putri Hindu yang sedang mengalami menstruasi (cuntaka). Berangkat dari pertanyaan yang muncul dalam rapat dewan guru pada hari Rabu, 15 April 2026 di ruang guru SMP Negeri 4 Abiansemal, kajian ini menelaah pemahaman masyarakat terkait konsep “kotor” secara lahiriah dan spiritual. Dengan pendekatan ajaran Nivṛtti Mārga dan Pravṛtti Mārga, serta diperkuat oleh kutipan sloka Sarasamuscaya, disimpulkan bahwa perempuan yang sedang menstruasi tetap dapat melaksanakan doa, khususnya melalui pemujaan internal (manasa japa), tanpa harus meninggalkan kewajiban spiritualnya.

PENDAHULUAN

Dalam dinamika kehidupan sekolah, ruang kelas bukan hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan spiritualitas. Pada rapat dewan guru tanggal 15 April 2026, muncul sebuah pertanyaan reflektif dari Bapak I Ketut Supi:
“Apakah siswi yang datang bulan boleh melaksanakan Puja Tri Sandhya? Bukankah orang yang dalam keadaan kotor tidak diperbolehkan ke pura, sedangkan kelas bukan tempat suci?”

Pertanyaan ini menjadi refleksi penting, khususnya bagi remaja putri Hindu yang tengah mengalami fase biologis berupa menstruasi. Dalam realitasnya, banyak dari mereka merasa “tidak pantas” (leteh ring raga) untuk berdoa, bahkan memilih untuk tidak melakukan Tri Sandhya.

PEMBAHASAN

1. Menstruasi dalam Perspektif Hindu: Bukan Dosa, Melainkan Siklus Alamiah

Menstruasi merupakan bagian dari Rta (hukum kosmis alam semesta). Ia bukanlah sesuatu yang hina, melainkan tanda kesuburan dan keseimbangan biologis. Namun dalam praktik sosial-budaya, sering terjadi pemaknaan keliru bahwa menstruasi identik dengan “kotor” secara spiritual.

Dalam Sarasamuscaya ditegaskan:
“Śarīram ādyam khalu dharma sādhanam”
(Tubuh adalah sarana utama untuk melaksanakan dharma)

Makna sloka ini menegaskan bahwa tubuh manusia, dalam kondisi apapun, tetap merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Konsep Cuntaka dan Vibrasi Spiritual

Cuntaka bukan berarti seseorang menjadi hina, melainkan berada dalam kondisi ketidakseimbangan energi (sekala-niskala). Dalam kondisi ini, seseorang dianjurkan untuk tidak datang ke tempat suci umum (pura) guna menjaga keharmonisan vibrasi spiritual.

Namun perlu ditegaskan bahwa:
Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) tidak pernah ternodai oleh keadaan manusia.

Larangan ke pura bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena menjaga kesucian ruang kolektif umat.

3. Dua Jalan Pemujaan: Nivṛtti Mārga dan Pravṛtti Mārga

a. Nivṛtti Mārga (Jalan ke Dalam Diri)

Merupakan jalan spiritual yang dilakukan dengan kontemplasi, meditasi, dan manasa japa (pengulangan mantra dalam hati).

Bagi siswi yang sedang menstruasi, inilah jalan utama yang dianjurkan. Mereka tetap dapat melaksanakan doa tanpa harus mengambil sikap amustikarana:
- di kamar (di rumah)
- di kelas (di sekolah)
- di ruang kerja (di kantor)

b. Pravṛtti Mārga (Jalan ke Luar Diri)
Merupakan bentuk pemujaan melalui sarana lahiriah seperti persembahyangan di pura, penggunaan banten, dan simbol-simbol suci. Ini dilakukan saat kondisi tubuh dalam keadaan normal (tidak cuntaka).

4. Etika Susila dan Silakrama dalam Praktik Keagamaan

Dalam ajaran Hindu, etika (susila) menjadi landasan utama dalam bertindak. Seorang perempuan yang sedang menstruasi tetap wajib menjaga hubungan spiritualnya dengan Tuhan.

Namun bentuknya disesuaikan:
bukan dengan meninggalkan doa
tetapi dengan menyesuaikan cara berdoa

Menghindari sikap “tangan amusti” (tidak melakukan apa-apa), karena hal tersebut justru menjauhkan diri dari nilai dharma.

5. Relevansi bagi Remaja Putri (ABG Hindu)

Ungkapan seperti “duh, lagi dapet nih” mencerminkan beban psikologis yang dirasakan remaja putri. Oleh karena itu, pendidikan agama harus hadir memberi pencerahan bahwa:
* menstruasi bukan halangan untuk berdoa
* spiritualitas tidak berhenti karena kondisi fisik
* Tuhan dapat dihubungi kapan saja, dimana saja

KESIMPULAN

Menstruasi adalah proses alamiah dan bukan penghalang untuk berhubungan dengan Tuhan.

Perempuan dalam kondisi cuntaka tetap dapat melaksanakan dos melalui Nivṛtti Mārga.

Larangan ke pura bersifat etis dan sosial, bukan teologis mutlak.

Kelas bukan tempat suci formal, namun dapat menjadi ruang spiritual melalui niat suci dan doa tulus.

Pendidikan agama harus menanamkan pemahaman yang benar agar remaja putri tidak merasa rendah diri secara spiritual.

PENUTUP 

Sesungguhnya, kesucian tidak semata-mata terletak pada tubuh, tetapi pada hati yang tulus. Dalam setiap hembusan napas, dalam setiap bisikan doa yang lirih, Tuhan hadir tanpa batas ruang dan waktu.

Perempuan yang sedang menstruasi bukanlah jauh dari Tuhan—justru dalam keheningan batin, mereka dapat lebih dekat melalui manasa japa.
Sebagaimana diajarkan dalam Sarasamuscaya:
“Manah eva manuṣyāṇāṁ kāraṇam bandha mokṣayoḥ”
(Pikiranlah yang menjadi sebab keterikatan dan kebebasan manusia)

Maka, sucikan pikiran, jernihkan hati, dan tetaplah berdoa. Karena Tuhan tidak pernah menjauh—hanya manusia yang terkadang merasa tidak pantas untuk mendekat.

Om Tat Sat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendisiplinan Rambut sebagai Cerminan Karakter Berbudaya

Membangun Disiplin dan Etika Siswa di SMP Negeri 4 Abiansemal

Menjelang Hari Pendidikan Nasional